PKI Gaya Baru, PKI Gaya Lama

PKI Gaya Baru PKI Gaya Lama

PKI Gaya Baru PKI Gaya Lama

Belakangan kita melihat spanduk-spanduk – di berbagai kota – yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mewaspadai “PKI Gaya Baru.” Apa yang dimaksud dengan “PKI Gaya Baru”?

Bila ada PKI Gaya Baru, tentu ada PKI Gaya Lama. Tersirat, PKI-nya sama, tapi gayanya beda. Lama dan baru.

PKI adalah akronim dari Partai Komunis Indonesia. Pernah menjadi partai besar dalam era 1950-1965, PKI dihancurkan secara fisik pada akhir 1965-awal 1966 dan secara politik pada jelang pertengahan 1966 (Ingat pelaksanaan SP 11 Maret, juga Tap MPRS XXV/1966). Ideologi PKI: Marxisme-Leninisme, tafsiran dan rumusan dogmatis birokrasi Stalinis. Itulah PKI.

Bicara PKI Gaya Baru, mestinya ada afinitas dengan PKI Gaya Lama. Secara logis, afinitas ideologis: Marxisme-Leninisme. Ideologinya sama, gayanya beda. Gaya Lama: perjuangan menuju Sosialisme dengan jalan konstitusional (PKI ikut Pemilu 1955). Bicara Aksep (Aksi Sepihak) ormas taninya, yakni BTI, konteksnya juga konstitusional, yakni UU Agraria 1960. Melihat pelaksanaan undang-undang tersebut tersendat, BTI menggerakkan massa tani untuk mengimplementasikan “tanah bagi yang menggarapnya.” Lantas apa Gaya Baru-nya?

Sebagai partai, PKI sudah binasa. Sebagai ideologi, Marxisme-Leninisme sudah bangkrut. Uni Soviet sudah lama runtuh. Demikian juga negara-negara satelitnya. Tiongkok dan Vietnam beralih pada “Sosialisme Pasar”, yang pada galibnya Kapitalisme yang dikontrol oleh Partai via Birokrasi Negara. Kuba sedang bergerak mengikuti jejak mereka. Di bawah Dinasti Kim, Korea Utara menafsirkan Marxisme-Leninisme sedemikian rupa (dengan Juche, patriotisme Korea), sehingga tidak jelas apakah Marxisme-Leninisme masih diterapkan di sana. Pendeknya, Marxisme-Leninisme sudah bangkrut. Kebangkrutannya diumumkan oleh para intelektual seperti Fukuyama (pasca Perang Dingin adalah Akhir Sejarah, di mana demokrasi liberal dan kapitalisme keluar sebagai pemenang) dan Huttington (pasca Perang Dingin, polarisasinya adalah antara Barat dan Islam). Pengumuman ini disambut meriah oleh dunia kapitalis. Intinya: Komunisme/Marxisme-Leninisme sudah gagal, bangkrut. Tidak ada lagi orang yang tertarik kepadanya.

Lantas mengapa masih ada pihak-pihak di negeri ini yang paranoid, sehingga menciptakan frase yang sumir, “PKI Gaya Baru”? Entah apa kepentingannya. Tapi dengan ungkapan “Waspadai PKI Gaya Baru” mereka justru menaburkan bibit saling curiga di antara sesama warga bangsa. Jangan-jangan ujung-ujungnya sama dengan Orba: Kritis terhadap pemerintah, dicap PKI. Menolak kesewenang-wenangan, PKI. Mendampingi rakyat kecil menyuarakan hak-haknya, PKI. Buruh bergerak, PKI. Menerbitkan koran/majalah yang menampilkan historiografi yang berbeda dengan historiografi resmi tentang G30S, dicurigai PKI. Lantas kebiadaban para penganiaya Tosan dan pembunuh Salim Kancil selayaknya dicap apa?

Ketimbang memasang spanduk dengan frase yang sumir, sebaiknya pihak-pihak yang berkepentingan menggelar diskusi yang terbuka, jujur, dan fair.

Bila masih mempercayai Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dan Sila Persatuan Indonesia, turutlah dalam upaya mencerdaskan bangsa. Bukan menabur benih kecurigaan atas nama kewaspadaan. Apakah rakyat Indonesia, khususnya rakyat jelata, akan diuntungkan dengan kewaspadaan yang tidak cerdas ini?

Bila masih mempercayai Sila Ketuhanan yang Maha Esa, sebaiknya pihak-pihak tersebut tidak menebar fitnah. Pantaskah seorang bekas petinggi menuding PRD yang ideloginya Bung Karnoisme sebagai PKI Gaya Baru? Kalau PRD berideologi Marxisme-Leninisme dan menggunakan cara-cara baru, yang berbeda dengan PKI-nya Aidit, benarlah tudingan itu. Jika tidak, bukankah ini fitnah?

Bila masih mempercayai Sila “Kerakyatan…” alias demokrasi, persilakanlah rakyat mempelajari secara kritis dan menyikapi, macam mana PKI dengan Marxisme-Leninisme-nya. Katup informasi sudah terbuka sejak Reformasi 1998. Bila Pancasila benar-benar sakti, ia tidak akan goyah apalagi tumbang oleh Marxisme-Leninisme yang sudah ‘bangkrut’ itu. Bila rakyat benar-benar Pancasilais, saya yakin, bukan hanya Marxisme-Leninisme, tapi juga gagasan-gagasan “sesat” lainnya tak akan laku. Apa yang ditakutkan?

Bila masih menjunjung Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebaiknya pihak-pihak tersebut mendorong pemerintah, DPR, dan institusi-institusi penegak hukum untuk memberantas korupsi, mendesak pemerintah untuk berkomitmen pada kesejahteraan buruh, dan mengawal pemerintahan JKW-JK untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya, Trisakti dan Nawacita.

Bila dari “ujian Pancasila” ini pihak-pihak tersebut tidak lulus, rakyat yang makin cerdas tahu, siapa sebenarnya yang harus diwaspadai. ***

Penulis adalah seorang pendeta, staf pengajar di STT Abdiel, Ungaran, dan pengamat sosial-politik dari Pusat Studi Teologi Sosial (PSTS) STT Abdiel.

Comments
One Response to “PKI Gaya Baru, PKI Gaya Lama”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Source: PKI Gaya Baru, PKI Gaya Lama […]



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: