Bagaimana Rakyat Chicago Menghantam Trump

Bagaimana Rakyat Chicago Menghantam Trump

GettyImages-514908468

Kerumunan multi ras yang merepresentasikan rakyat dari seluruh penjuru Chicago muncul di Paviliun Universitas Illinois Chicago (UIC) 11 Maret untuk mengatakan kepada Donald Trump bahwa pesan rasisnya tidak diterima disini dan memaksanya membatalkan reli/arak-arakannya serta berakhir menyuruh para pendukungnya pulang.

Socialist Worker berada di dalam dan di luar paviliun UIC untuk melaporkan bagaimana rasisme dan bigotri atau kebencian sektarian berhasil dikalahkan disana.

Trump yang saat ini merupakan kandidat calon presiden Partai Republiken, dijadwalkan naik panggung jam 18.00 di balai yang penuh hadirin di Jumat Malam. Namun 30 menit setelah seharusnya mulai, seorang perwakilan Trump naik ke podium dan mengumumkan:

Pak Trump baru tiba di Chicago dan setelah bertemu dengan para aparat hukum, akhirnya memutuskan bahwa demi keamanan semua puluhan ribu orang yang berkumpul di dalam dan sekitar arena, maka reli malam ini akan ditunda ke tanggal lainnya

Ini jelas merupakan kemenangan bagi kaum demonstran, yang seketika menyambutnya dengan sorak sorai di antara barisan anti-Trump, dan di sisi lain: kekalahan bagi para pendukung Trump.

Selama hampir lima jam, atmosfer tegang memenuhi paviliun tersebut seiring para pendukung Trump dan kaum aktivis yang memasuki paviliun untuk memprotes menunggu acara dimulai. Gelombang-gelombang kekerasan, kekasaran, dan kebencian meluap dan mengalir dari para pendukung Trump terhadap para demonstran anti-Trump.

Pertunjukan besar macam gulat-profesional ini tampaknya merupakan ciri khas strategi hubungan masyarakat (humas) Trump, karena secara tipikal ia mendorong kerumunannya ke dalam kegilaan yang membabi-buta terhadap para imigran, muslim, dan demonstran anti-Trump. Menurut orang-orang yang berada di dalam lokasi, beberapa pendukung Trump berlarian di sekitar arena tiap kali seorang demonstran ketahuan meneriaki mereka dan kemudian meringkusnya. Terdapat pula para pendukung Trump yang datang dengan memakai pakaian pesta dengan jas hitam, gaun mahal, jam tangan emas, dan sepatu mewah buatan desainer.

Para pendukung Trump lainnya memakai pin “Blue Lives Matter” dan tiap kali ada jajaran polisi lewat, mereka bertepuk tangan dan menyeru “CPD! CPD!” (Chicago Police Department/Departemen Polisi Chicago). Barisan-barisan depan disiapkan untuk para pendukung Trump dari kalangan kaya dan menurut rumor Jay Cutler, atlet posisi Quarterback dari tim Bears, telah memesan kursi. Sedangkan di tempat duduk bagian atas, terdapat orang-orang yang memakai kaos “All Lives Matter”, potongan rambut militer, pakaian Konfederasi, dan tambalan/bordiran KKK.

Dalam reli-relinya, Trump mengobarkan ketakutan dan kemarahan massa serta mengarahkannya dengan mengambinghitamkan orang-orang seperti kaum imigran dan kaum Muslim. Salah satu pendukung Trump mengeluh, “keluargaku bersusahpayah agar putraku bisa kuliah sedangkan ia punya teman ilegal yang bisa mendapatkan gratisan. Masyarakat ini tidak mengakui orang-orang yang bekerja keras.”

Bagi beberapa hadirin, ini adalah suatu tempat dimana mereka bisa menemukan saluran bagi rasisme dan xenophobianya. Trump telah mendorong para pendukungnya untuk menyerang tiap demonstran anti-Trump yang muncul ke acaranya, dan beberapa orang memang mendatangi para demonstran untuk melakukan hal demikian.

Aparat keamanan Trump mendatangi orang-orang di dalam lokasi yang mereka anggap merupakan demonstran, biasanya orang-orang non kulit putih, untuk menanyai nama mereka dan mencarinya di ponsel pintar mereka. Para aparat dari tiga departemen polisi juga merupakan bagian rincian keamanan bagi acara itu.

Bagi para demonstran di luar, hari itu dimulai lebih awal di sore di alun-alun kampus UIC, dimana ratusan orang muncul mendatangi suatu orasi yang dipimpin mahasiswa, dan diorganisir secara luas via media sosial, sebelum bergerak ke Paviliun UIC.

Protes ini diorganisir sangat cepat, karena pengumuman acara Trump baru diketahui seminggu sebelumnya. Seorang mahasiswa UIC memulai petisi MoveOn.org untuk meminta UIC membatalkan mengundang Trump yang sudah menuai daya tarik. Sekumpulan kelompok mahasiswa dan aktivis di UIC kemudian membuat grup Facebook “Stop Trump” dan acara yang dalam 24 jam telah menuai respon kehadiran ribuan orang.

Pertemuan pengorganisiran awal pada 7 Maret kemudian menarik sekitar 100 mahasiswa yang mewakili kelompok-kelompok seperti Muslim Student Association atau Asosiasi Mahasiswa Mulim, College Democrats atau Kaum Demokrat Kampus, the Black Student Union atau Serikat Mahasiswa Hitam, kelompok-kelompok hak-hak imigran mahasiswa, para aktivis Black Lives Matter, termasuk para anggota Service Employees International Union Local 73 atau Serikat Pekerja Jasa Internasional cabang Lokal 73.

Para demonstran mengembang strategi dalam dan luar untuk acara Trump, dan selama sepekan, jumlah orang yang ingin datang dan melawan Trump terus melonjak.

Tanggal 11 Maret, seiring helikopter-helikopter stasiun berita beterbangan di langit dan lalu lintas lumpuh, sekitar 3.000 aktivis militan yang terdiri dari berbagai macam ras turun tumpah ruah ke jalanan untuk menentang Trump. Ini bagaikan suatu festival solidaritas karena spektrum luas dari kaum kiri dan organisasi-organisasi progresif serta individu-individu yang sebelumnya tidak pernah ikut demonstrasi semuanya bergerak sebagai satu kesatuan ke arah kampus UIC dan menuju arena.

Seiring arak-arakan demonstran semakin dekat ke Paviliun UIC, barikade-barikade dan ratusan orang dari Chicago, Kabupaten Cook, dan aparat polisi UIC, baik yang berjalan kaki, naik mobil, maupun berkuda memisahkan para demonstran dari orang-orang yang mengantri masuk.

Yel-yel “Dump Trump!” atau “Singkirkan Trump” menemani ribuan demonstran, panji-panji, bahkan terompet dan band mariachi seiring massa mengepung arena.

Berjalan di jalan Harrison seperti menyaksikan etnis-etnis berlainan yang selama ini berada di lingkungan-lingkungan terpisah, berhimpun bersama, dengan para demonstran mengusung plakat-plakat dan poster-poster dalam bahasa Spanyol, bahasa Arab, dan bahasa Inggris. Terdapat juga kelompok aktivis-aktivis LGBTIQ, Black Lives Matter, para pendukung Sander dari kaum Latin, kaum anarkis, sosialis, seniman, buruh, dan profesional—semuanya berkumpul untuk membubarkan acara Trump.

Seorang pasangan bergandengan tangan, Diego dan Caroline, adalah salah satunya. “Ini adalah pertama kalinya ikut (demonstrasi). Kami bercebat untuk ikut atau mendukung Bernie,” kata Diego, mengacu kepada fakta bahwa Sanders juga punya acara kampanye di hari yang sama. “Namun kami memutuskan untuk datang…kami ingin berdiri bersama dalam solidaritas melawan Trump, apapun yang dikatakannya.”

Sejumlah orang sangat banyak mendukung kampanye Bernie Sanders. Sandra Puebla, seorang mahasiswa di Universitas Dominican, dengan bangga memasang suatu stiker “Unidos con Bernie” (Bersatu dengan Bernie) di sewaternya dan menyatakan, “(Sanders) mengusung isu-isu yang biasanya tidak diusung. Ia bicara tentang pentingnya gerakan Black Lives Matter, xenophobia, dan bukan seperti apa yang biasanya diomongkan Partai Demokrat. Bahkan kalaupun dia tidak menang ia masih berdampak pada Pemilu.”

Para demonstran lainnya tidak berafiliasi dengan calon presiden manaun, namun berdiri tegas melawan Trump. “Trump harus dihentikan,” kata Madeline Frankie yang berusia 20 tahun, yang bersekolah di Pittsburgh dan pulang untuk liburan musim semi. Saat menyoal rasisme kampanye Trump, ia menambahkan, “betapa menjijikkannya itu. Kita semua manusia. Kita semua rakyat.”

Berkebalikan dengan dusta Trump bahwa acaranya dirusak oleh “para agitator profesional,” Jacob, pemuda 20 tahun yang memegang plakat bertuliskan “#DumpTrump,” menjelaskan, “Jujur ini demonstrasi pertama saya. Ini dibagikan di Facebook. Para mahasiswa UIC sudah bicara tentang ini begitu seirng di kampus, dan salah satu teman sekelasku membagikannya denganku dan saya membagikannya dengan semua temanku dan sekarang mereka semua disini bersama saya.”

Sebelahnya, Ashley yang berusia 20 tahun dari lingkungan penduduk ras Meksiko di Pilsen menyatakan kemarahannya: “Saya seorang Meksiko dan saat Trump menyatakan mengenai bagaimana kami semua adalah pemerkosa dan penjahat, itu benar-benar menusuk hatiku karena banyak keluarga saya tidak punya dokumen. Namun mereka adalah para pekerja keras yang luar biasa. Trump salah—tidak semua orang Meksiko adalah pemerkosa, tidak semua Muslim adalah teroris.”

Ia menambahkan, “Demo pertama saya adalah demo untuk Trayvon Martin tahun 2012, dan sejak itu saya aktif politik.”

Radikalisasi pemuda yang baru ini haus akan persatuan multiras dan sementara organisasi-organisasi masih harus dibangun, dahaga akan solidaritas sangatlah kuat. Alex Qiggins pemuda 23 tahun dari Chicago Selatan menyampaikan kemarahannya:

Sejujurnya aku tidak peduli setan dengan Donald Trump, aku tidak percaya niatan-niatannya. Aku punya banyak teman Meksiko, dan aku sendiri adalah seorang Amerika Afrika. Ia ingin membuat Amerika kulit putih lagii; aku tidak berpikir Amerika kulit putih. Ini kan tempat keanekaragaman? Aku pikir ini tempat untuk kita semua. Kaumku mati untuk negeri ini, mungkin dengan terpaksa, namun tumpah darah kami ada di tanah ini. Darah orang Meksiko, darah Pribumi Amerika ada di tanah ini.”

Ini negeri kami dan kami tidak akan membiarkan uang menguasainya. Kami tidak akan membiarkan elit 1 persen penguasa merebut segalanya. Bapakku hampir 70 tahun—pernah ada masanya saat ia muda, saat seorang laki-laki bisa bekerja 40 jam seminggu dan menopang keluarganya, menguliahkan anak-anaknya, dan menghabiskan waktunya dengan anak-anaknya. Sekarang orang-orang yang bekerja 70 jam per minggu tidak bisa membesarkan anak-anaknya.”

Akhirnya, anak-anak mereka berada di jalanan dan kini kami menderita kekerasan, kami menderita kemiskinan. Dan orang-prang seperti Donald Trump tidak pernah sedikitpun mendekati apapun seperti itu. Mereka tidak paham bagaimana rasanya berjalan ke toko dan dihakimi atau bahkan berjalan ke dalam kelas dan dihakimi. Itulah mengapa saya disini.”

Satu-satunya cara untuk menghentikan Kaum Kanan adalah untuk membubarkan mereka secara langsung melalui aksi-aksi massa yang mempersatukan rakyat melawan rasisme mereka.

Perayaan hina kebencian di reli-reli Trump baru-baru ini telah menarik demonstrasi-demonstrasi di hampir setiap pemberhentian kampanye, dengan para aktivis memasuki acara-acara untuk mengibarkan spanduk-spanduk protes dan mengganggu acara. Insiden-insiden ini begitu umum sampai Trump sekarang memulai reli-reli dengan menginstruksikan ke kerumunan untuk menangani para pengganggu dengan mengucapkan yel-yel “Trump!” untuk menarik perhatian aparat keamanan.

Trump juga telah mengizinkan para pendukungnya untuk menyerang para demonstran secara fisik pada berbagai kesempatan, termasuk reli di Carolina Utara dimana seorang demonstran dipukul oleh seorang pendukung Trump. Trump merespon tindakan ini dengan menawarkan untuk membayari ongkos persidangan sang pemukul.

Para demonstran mengekspresikan sentimen-sentimen anti rasis di seluruh negeri dan menunjukkan bahwa Trump dan golongannya bisa dilawan dan dikalahkan. Di reli, kaum buruh dan mahasiswa Chicago—kulit hitam, Latin, Arab, Asia, dan juga kulit putih—melakukan apa yang hanya sedikit dilakukan para petinggi Partai Demokrat, Partai Republiken, atau media massa, yaitu menggasak bigotri/kebencian SARAnya secara langsung. Demagog sayap kanan yang menyombongkan diri tidak pernah mundur terpaksa mundur dengan hina bukan akibat adu retorika debat, kampanye media sosial, atau serangkaian aksi langsung—namun oleh ribuan rakyat Chicago yang muncul menentangnya.

Berhari-hari sebelum reli, Chicago Tribune mengangkat tajuk, “Trump to face protest by Latino Leaders” atau “Trump menghadapi protes dari para pemimpin Latin” dengan mengklaim bahwa “Para pejabat dan pemimpin Latin mengatakan hari Senin mereka akan mengorganisir suatu demonstrasi untuk melawan…penampilan Donald Trump.” Dalam suatu pertunjukan oportunisme klasik, Luis Gutierrez dan Alderman Danny Solis dari Illinois menggelar konferensi pers dalam upayanya meraup poin politik bagi Partai Demokrat.

Bagaimanapun juga, bukanlah para pejabat, namun ribuan rakyat jelata Chicago yang berhimpun dan bergerak melawan Trump, berdorong-dorongan dengan barisan polisi, serta turun ke jalan. Ratusan demonstran berada di dalam paviliun UIC dan, lewat selisih jumlah massa yang tipis, berhasil memaksa Trump kabur dari kota.

Strategi yang digunakan kaum demonstran di dalam arena sangatlah efektif baik dari segi besaran partisipan dan kualitas pengorganisiran. Kaum aktivis di dalam tidak bertindak secara acak untuk menghindari disasar satu demi satu melainkan berdisiplin sehingga tidak terprovokasi dan bertekad bertindak bersama.

Sebagaimana ditulis Howard Zinn, Sang Sejarawan Radikal, kalau kalian ingin merusak reli sayap kanan, “lakukan dengan 2.000 orang.” Sementara para demonstran di dalam berperan menentukan dalam membatalkan acara, arak-arakan massa dalam jumlah sangat besar di luar juga sama pentingnya dalam mengirimkan pesan kepada rakyat Chicago dan lainnya bahwa rasisme dan bigotri tidak diterima disana. Sementara para politisi Demokrat hanya memprotes rasisme atau homophobia kalau mengentungkan mereka secara politik, di sisi lain justru massa rakyat Chicago yang mengirimkan pesan kepada Trump kali ini: Kau dipecat!

Akhirnya, media menggambarkan demonstrasi-demonstrasi tersebut sebagai “bentrokan-bentrokan keras.” Calon presiden Demokrat, Hillary Clinton, yang juga berada di area Chicago berkampanye pada hari protes, menyatakan dan mengeluhkan “kekerasan” kedua belah pihak dan secara ganjil memperbandingkannya dengan penembakan massal oleh kaum suprematis kulit putih di Charleston, Carolina Selatan.

Kenyataannya, para demonstran damai yang diserang gerombolan para pendukung Trump yang murka saat mereka tahu acaranya dibatalkan. Ini—secara tak mengejutkan—tidak dilaporkan oleh media-media korporat, begitu juga dengan fakta jumlah para demonstran yang dipukuli dan ditahan oleh aparat polisi.

Saat yang bersamaan, Trump merengek tentang “kebebasan berpendapatnya” dilanggar. Fakta bahwa Trump bisa maju sebagai bakal calon presiden dengan warisan jutaan dolar dan membeli mimbar dimana tiap katanya diusung oleh stasiun-stasiun baru seakan-akan pandangannya mengandung kebaikan, bagaimanapun juga, justru merupakan pelanggaran kebebasan berpendapat ribuan demi ribuan rakyat pekerja yang dijadikan target pengambingan hitamnya.

Kaum demonstran di Chicago tidak meminta negara campur tangan dengan membatasi pidato Trump yang penuh kebencian itu. Sebaliknya kami sendiri yang menenggelamkan kebencian Trump dengan kekuatan suara kolektif kami. Demonstrasi-demonstrasi seperti di Chicago itulah yang diperlukan untuk membangun suatu gerakan melawan pengambinghitaman rasis, perang tanpa henti, tembok-tembok perbatasan dan deportasi-deportasi, tak peduli apakah biang keroknya dari Partai Republiken ataupun Partai Demokrat.

*Laporan Mario Cardenastentang ribuan massa rakyat yang berkumpul di Chicago untuk mengusir Donald Trump. Ditambah kontribusi dari Brian Bean, Rory Fanning dan Brit Schulte. Diterjemahkan dari tulisan di socialistworker.org bertajuk “How Chicago dumped Trump”. Dipublikasikan dalam bahasa Indonesia via Bumi Rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: