Perlawanan Kaum Guru Hungaria

Demo Guru di Alun-alun Parlemen (2)

13 Februari 2016 akan dicatat dalam sejarah sebagai kebangkitan kelas buruh dan awal perjuangan kelas di Hungaria dalam abad ke-21. Puluhan ribu rakyat berkumpul di depan gedung parlemen Hungaria menuntut penghapusan semua “reforma” pendidikan selama lima tahun terakhir. Meskipun di tengah guyuran hujan ribuan demi ribuan massa bergerak dengan bangga, menunjukkan kepedulian mereka bukan hanya untuk pendidikan. Namun juga untuk layanan kesehatan, untuk transportasi, melawan korupsi, dan apa yang kini umum disebut sebagai “negara mafia”.

Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, dukungan bagi para guru datang dari lapisan luas sektor. Mulai dari para pekerja pemerintah setempat, pekerja kesehatan, pekerja transportasi, buruh tambang, personel kepolisian, dan bahkan prajurit. Spanduk-spanduk memenuhi alun-alun menunjukkan dukungan dari serikat-serikat, baik resmi maupun tidak resmi, dengan slogan-slogan tulisan tangan. Atmosfernya sangat bersahabat, berkawan, dan sangat mendukung satu sama lain serta apa yang diperjuangkan. Para pembicara datang dari semua latar, dan didengar dengan antusiasime serta disambut aplaus. Akhir reli aksi, Mária Sándor, sang “perawat berbaju hitam” menyerukan mengheningkan cipta selama lima menit. Perempuan ini dipersekusii dan dipecat tahun lalu karena mengungkap kondisi berbahaya banyak rumah sakit Hungaria. Saat itu hanya ia yang berdiri sendiri, namun kini pada tanggal 13 ia mendapat dukungan dan sorak-sorai yang membahana di mimbar orasi. Ini menunjukkan kepada pemerintah bahwa kebulatan tekad dan persatuan massa yang ingin memperdengarkan suara mereka.

Muasal gerakan ini bisa dilacak tahun lalu, saat Sekolah Atas Hermann Ottó di Miskolc, mengeluarkan suatu surat terbuka kepada pemerintah, yang menyebut satu persatu keluhan mereka atas penghancuran demokrasi di pendidikan dan dampak buruk “reforma-reforma” pemerintah, yang menyertakan jatuhnya plester di ruang-ruang kelas, kurangnya buku-buku, bahkan kapur dan kertas. Surat terbuka itu memuat 25 tuntutan yang menyerukan pengembalian demokrasi lokal di sekolah-sekolah, penghapusan KLIK, yaitu organisasi terpusat pemerintah yang mengawasi pendidikan, menuntut pengajaran dan jam belajar yang masuk akal serta tidak memberatkan para murid maupun guru, pengurangan dalam konten Kurikulum Nasional, menuntut otonomi guru dalam metode penyampaian, dan sebagainya. KLIK yang menghimpun basis partisan, terdiri dari hanya orang-orang yang diupah oleh FIDESZ, segelintir pendidik, dan para pakar riil, sejak saat tu telah menjadi pusat sasaran kebencian para pekerja pendidik. Bukan hanya tidak memeliki para pakar di antara anggotanya, namun juga karena dikenal sebagai pihak amatir sepenuhnya yang tidak bisa mengorganisir satu pun pelajaran, apalagi sistem pendidikan secara keseluruhan dari satu atau dua kantor di Budapest. Gema Stalinisme yang melimpah lewat inefisiensi birokratisnya, bigorti tersentralisir, kurangnya profesionalisme, dan penggunaan dikte dari atas secara berlebihan. Tak heran, bahkan orang-orang yang sepenuhnya non-politis bersama beberapa anggota FIDESZ dari profesi pendidikan sepenuhnya bersatu dengan massa dalam seruan untuk penghapusan organisasi memalukan demikian.

Pemerntahan FIDESZ Viktor Orbán telah memperlakukan para guru dengan cara sama seperti mereka memperlakukan semua pekerja pemerintah: dengan penghinaan, dengan konsultasi palsu, dengan keengganan untuk mendengarkan, dengan dikte-dikte dari atas, dan khususnya dengan tangan besi untuk memperkenalkan kembali sistem Teutonik tua berupa belajar dengan cara menghafal, mengingat fakta, melawan kehendak bebas, kebebasan berpendapat atau berpikir baik para guru maupun para murid. Dengan kata lain, apa yang diingkannya adlah tenaga kerja yang patuh dan tidak berpikir serta tidak pernah akan menantang otoritasnya.

Persatuan tanpa tanding antara guru, murid, dan orang tua telah mulai berkembang segera setelah isu surat terbuka. Dengan penggunaan pintar terhadap internet, Twitter, dan Facebook, kampanye ini tiba-tiba tumbuh secara pesat. Segera terkumpul 30.000 orang pendukung dan lebih dari 500 sekolah nasional yang bergabung, yang sebagian di antaranya dengan berani menyertakan namanya dalam petisi, termasuk kepala-kepala guru dan gubernur.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa butuh keberanian untuk sekadar menaruh nama di atas surat terbuka dan petisi di abad 21? Karena metode-metode “negara mafia” Hungaria menyertakan cara-cara intimidasi halus—dalam dalam berbagai kesempatan tidak halus sama sekali—oleh pejabat-pejabat tinggi di semua ranah kehidupan sehari-hari. Sentralisasi ekstrem terhadap pendidikan dalam semua aspek (finansial, penyediaan peralatan, perawatan gedung, penunjukan staf, kekuasaan para penasihat, peluang-peluang karir dan sebagainya) merupakan ha yang sangat encekik dan seringkali bisa menimbulkan pelecehan di tempat kerja, kurangnya promosi, dan pemecatan atas dasar dalih yang dibuat-buat. Dalam situasi-situasi inilah ketakutan tinggi dan intimidasi berjalan dari waktu ke waktu. Hal ini membuat keberanian yang muncul seketika, kurangnya rasa takut, persatuan dan kerjasama antar ratusan sekolah bersifat signifikan. Kaum Marxis selalu mengatakan bahwa penndasan hanya akan bekerja untuk sementara. Salah satu slogan reli aksi adalah: “Sudah sejauh ini, sudah cukup!”

Hungaria telah mengakibatkan ratusan ribu pemuda meninggalkan negerinya dengan harapan kehidupan yang lebih baik di luar negeri dan dari tahun ke tahun semakin banyak yang menyatakan niatannya untuk pergi secepat mungkin. Para pelajar terbaik di sekolah maupun di universitas juga pergi, karena mereka tidak ingin berurusan dengan negara yang dicengkeram pemerintahan sayap kanan yang tanpa henti semakin bergerak ke kanan, dan dengan demikian mengurangi kesempatan baik bagi para pemuda di masa depan.

Dalam situasi inilah dan setelah bangkitnya kekuatan gerakan guru, pemerintah FIDESZ tiba-tiba menemukan bahwa negosiasi-negosiasi rupanya adalah hal baik dan memanggil semua pihak ke “diskusi meja bundar”. Ini terjadi setelah mereka sebelumnya menolak bicara ke para guru di sepanjang tahun 2015. Seketika banyak orang menyadari tipu muslihat ini dan beberapa memboikot konsultasi abal-abal ini, sementara lainnya datang dan kemudian walked out atau meninggalkan ruangan. Perlawanan semakin mengeras. Tuntutan-tuntutan mereka yang sederhana, masuk akal, dan logis, kini dikurangi dari 25 menjadi 4, antara lain:

  • Kami menuntut pembicaraan koordinasi dimulai dari basis profesional pendidikan! Lima tahun terakhir telah membuktikan bahwa arah baru tidaklah baik dan “peningkatan-peningkatan” tambal sulam tidak membawa kemana-mana.
  • Kami menuntut pemerintah setidaknya menganggarkan minimal 6% dari PDB untuk pendidikan tiap tahunnya demi menyediakan pendanaan normatif yang stabil, transparan, dan bisa diprediksikan.
  • Kami menuntut permasalahan-permasalahan yang cukup diketahui yang membuat operasi institusi pendidikan sehari-harinya jadi mustahil, memperparah buruknya kondisi belajar dan mengajar, secepatnya ditangani dengan perubahan dalam perintah-perintah hukum dan kementrian.

Kalau tuntutan-tuntutan tersebut tidak dipenuhi sekaligus, maka setidaknya satu serikat telah memulai persiapan untuk mogok. Dengan sentimen seperti sekarang, sepenuhnya memungkinkan bahwa serikat-serikat lain bergabung dengan mereka bukan hanya dalam peran pendukung, namun juga ikut turun ke jalan. Kami harus menawarkan solidaritas dengan semua rakyat, organisasi, serikat, dan badan-badan lain yang memperjuangkan masa depan pemuda Hungaria dan menyerukan pemogokan umum satu hari, yang tidak hanya akan mengusung tuntutan para guru namun juga tntutan dari semua ranah kehidupan yang lain. Bukan hanya pemuda dan masa depannya, namun kami semua juga menanggung risiko dari pemerintahan ini dan sistemnya.

Tarik ulur terkait permasalahan tidak akan bisa menghasilkan perbaikan kehidupan rakyat Hungaria, dan rakyat Hungaria pelan tapi pasti menyadari fakta ini. Saat saya berdiri di hadapan parlemen di tengah guyuran hujan saya mendengar banyak komentar termasuk para pembicara di mimbar, komentar-komentar yang tidak berhubungan langsung dengan pendidikan. Tuntutan-tuntutannya sudah bersifat politis, menuntut mengakhiri korupsi, menuntut demokrasi dan suatu masyarakat yang adil. Belum ada yang menyebutnya sosialisme, namun bahkan sejumlah kecil orang mengajukan gagasan Marxisme dalam situasi ini akan mendapatkan gaungnya.

Jajak pendapat seputar kampanye presiden AS Bernie Sander menunjukkan besarnya jumlah pemuda yang mendukung sosialisme. Hungaria tentu tidak mungkin menjadi pengecualian hari ini!

*diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari “Hungarian teachers’ revolt” tulisan Koresponden-koresponden International Marxist Tendency di Budapest, Hungaria. Dipublikasikan kembali via Bumi Rakyat.

i per·se·ku·si /pérsekusi/ v pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas. (KBBI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: