Joe Strummer, The Clash, dan Punk Perjuangan Kelas

Joe Strummer, The Clash, dan Punk Perjuangan Kelas

Joe Strummer

Joe Strummer, seorang musisi punk terkemuka, mantan front man The Clash, serta seorang aktivis politik, meninggal karena penyakit langka yang menyerang jantungnya di rumahnya di Somerset, Broomfield, Inggris, pada usia 50 tahun di tanggal 22 Desember 2002. Kira-kira 25 tahun sebelumnya, The Clash, mendobrak arena musik London dan menjadi salah satu band rock perlawanan terbesar sepanjang masa—menggabungkan berbagai aliran musik dengan penampilan panggung perlawanan, dan aktivisme politik sayap kiri, yang menginspirasi banyak orang bahkan hingga sekarang.

Pertengahan 1970an, kemakmuran Inggris pasca perang sudah menguap menjadi meroketnya pengangguran, menyusutnya program-program layanan sosial, dan meningkatnya kemiskinan. Ekonomi yang rusak ini menjadi bahan bakar permasalahan sosial seperi rasisme, xenophobia, dan brutalitas polisi yang merajela saat itu. Menggunungkan perasaan angkara, frustasi, dan isolasi membuat banyak pemuda Inggris kehilangan harapan. Banyak dari pemuda Inggris akhirnya beralih ke punk rock. Punk rock bukan sekedr versi keras dari rock and roll. Punk rock saat itu dipandang dan dijunjung tinggi banyak pihak sebagai gerakan kontra-kultur atau budaya tandingan. Punk sebagai filosofi dan gaya hidup. Punk berdiri sebagai oposisi baik secara estetis maupun politis terhadap kemapanan rock yang berkuasa—yang saat itu didominasi oleh aliran bernama “glam rock”—dan punk rock menyerang masyarakat konvensional. Glam rock bersifat pretensius (penuh kepura-puraan), dioverproduksi, licik, dan borjuis. Kontras dengan itu, punk rock, penuh dengan kemarahan, keras, dan berakar di alienasi/keterasingan kelas bawah/kelas buruh. Dengan empat kordnya, melodi-melodi yang sederhana dan mudah ditangkap, tempo yang cepat, dan lirik-liriknya yang sudah ditolak.

Strummer mengatakan bahwa The Clash sebenarnya terpinspirasi oleh grup-grup seperti MC5 dari Detroit, organ kultural White Panthers, “Kami ingin jadi seperti mereka, menggunakan musik kami sebagai suara keras protes…punk rock, di jantung hatinya, seharusnya merupakan musik protes.” Sementara banyak band terjerumus menjadi karikatur konyol dirinya sendiri, The Clash, di bawah pengaruh Strummer, menjadi band punk rock definitif. Mereka menarik garis dan menantang semua pihak untuk melintasinya dan bergabung bersama mereka. Sementara Sex Pistols menghabiskan waktu mereka dengan cara yang reaksioner, mentereng, dan hina, The Clash menghabiskan waktunya secara aktif, penuh pemikiran, dan serius.

Selama 25 tahun berkarya di dunia musik, Strummer menyentuh jutaan orang. Billy Bragg, seorang musisi Inggris sekaligus aktivis adalah salah satu orang yang terinspirasi musik Strummer yang sadar politik. Bragg menggambarkan Strummer sebagai orang yang tak pernah goyah dalam “komitmennya untuk membuat budaya pop politis”. Padu antara perkataan dan perbuatan, Strummer menggenggam cita-cita politiknya sepanjang hidupnya di tengah ketatnya tekanan media dan tingginya ekspektasi para penggemar. Tekanan demikian besar tentu akan melumat orang lain.

Seperti banyak orang yang tumbuh besar di masa Reagan, penemuan The Clash telah mengubah pandangan dunia banyak orang. The Clash tidaklah terdengar seperti siapapun sebelumnya. Energi musik, semangat, dan lirik-liriknya yang membakar menyuarakan perasaan keterasingan dan putus harapan sekaligus juga kemarahan dan pembangkangan, yang dirasakan banyak pemuda.

Melalui penulisan lagunya, Strummer terus-menerus mengkritik kapitalisme, memperjuangkan keadilan rasial, dan menentang imperialisme. Ia menunjukkan pada para pemuda bahwa ada alternatif-alternatif selain sikap kepuasan diri, oportunisme, dan ambivalensi politik yang mendominasi budaya pop. Musik Strummer tetap merupakan suatu legasi radikalisme, pembangkangan, dan perlawanan.

Perlawanan Kreatif

Bagi Strummer, menggunakan masa lalu untuk memahami masa kini secara lebih baik dan membentuk masa ulang bersifat fundamental bagi aktivisme kreatif Strummer. Revolusi buruh dan mahasiswa Mei 1968 di Paris, gerakan buruh dan mahasiswa di musim gugur membara Italia, serta terpilih dan tergulingnya Salvador Allende di Cile adalah beberapa peristiwa kunci yang dikutip Strummer untuk menjelaskan politisasinya. Punk rock, dan Strummer, pada khususnya meminjam sangat banyak dari gerakan-gerakan ini—bukan hanya secara ideologis namun juga secara estetis. “Punk rock untukku adalah suatu gerakan sosial”, katanya, “kami mencoba melakukan berbagai hal yang secara politis kami anggap penting bagi generasi kami dan semoga menginspirasi generasi berikutnya untuk bergerak lebih jauh lagi.”

THE CLASH 01

Sebagai seorang musisi, Strummer mendefinisikan ulang musik dan menegaskan kembali oposisi yang cerdas dan berkomitmen. Ia tampak terlibat di begitu banyak gerakan yang berbeda dan mendukung banyak isu sebelum isu-isu tersebut populer. The Clash ada di bagian terdepan gerakan Rock Against Racism atau Rock melawan rasisme yang didirkan pada tahun 70an untuk melawna bangkitnya kaum ekstrim sayap kanan National Front. Tanpa pernah takut terhadap kontroversi, Strummer mendorong The Clash untuk secara terbuka mendukung protes-protes H-Block di Irlandia Utara, yang dimulai di tahun 1976 saat Britania mencabut status politik dari para tahanan IRA (Irish Republican Army atau Tentara Republiken Irlandia). Ia tampil untuk terakhir kalinya pada 15 November 2002 di konser amal mendukung para pemadam kebakaran London yang sedang mogok. Bagi seseorang yang menggunakan musiknya untuk menggembleng dan mempromosikan aksi-aksi progresif, penampinal finalnya adalah penampilan paling fit.

Perkawanan dan kerjasama unik antara Strummer dengan Mick Jones, kolaborator utamanya dan lead guitarist The Clash, membawa suatu rasa ketertarikan revolusioner kepada musik modern. Strummer dan Jones dengan cepat mengenali kekuatan musik rap yang tengah bangkit dari skena underground New York City di akhir tujuh puluhan. “Saat kami datang ke AS Mick berpapasan dengan toko musik di Brooklyn yang memajang musik Grand Master Flash dan Furious Five, Sugar Hill Gang…semua kelompok ini mengubah musik secara radikal dan mereka mengubah segalanya bagi kami.”

Dengan tipikal gaya The Clash, mereka menjadi salah satu kelompok kulit putih pertama yang memasukkan rap ke dalam musik mereka. Sebagai tribut bagi Sugar Hill Gang, The Clash merekam The Magnificient Seven, salah satu single paling terkenal dan paling penting mereka. Contoh lainnya yang menandai komitmen The Clash untuk menantang pandangan-pandangan sosial umum adalah tindakan mereka mengajak beberapa kelompok rap New York bergabung dengan tur konser Clash on Broadway mereka yang besar. Saat itu tindakan ini sangatlah kontroversial karena saat itu dipercaya secara luas bahwa mengombinasikan dua audiens dan genre musik yang berbeda serta terpisah akan mengakibatkan kerusuhan rasial.

Bercermin dari pengaruh kelompok tersebut, ada pandangan bahwa hip-hop telah menggantikan punk rock sebagai kekuatan kulturan pop politis dalam semangat, vitalitas, dan kreativitas. Strummer mengatakan, “Itu tak diragukan lagi, khususnya dalam hal menghadapi penyakit-penyakit kapitalisme dan memberikan suatu analisis kelas yang cerdas, hip-hop underground, bukan yang versi budaya pop, telah meneruskan tongkat estafet yang ditinggalkan punk dan berlari kencang sekuat tenaga ke depan.”

Band Rock Pembangkang Terbesar Sepanjang Masa

Malam tahun baru 1976, The Clash memainkan pentas pembuka bagi grup Sex Pistols. Terkesan dengan penampilan mereka, Sex Pistols mengajak The Clash bergabung dengan tur “Anarchy in the UK” tahun 1977 yang akibat kelakuan liar dan bodoh beberapa band, intimidasi media massa, dan pelecehan aparat polisi, punk rock akhirnya dicap sebagai musuh nomor satu masyarakat. Meskipun para orang tua, polisi, dan politisi kebakaran jenggot, para pemuda malah kepincut.

THE CLASH 02

Strummer, seorang mantan pengamen dan penghuni liar (gelandangan yang menghuni bangunan atau gedung tanpa izin.ed), menyebut bahwa masa-masa itu dicirikan dengan keberadaan frustasi dan harapan sekaligus. “Banyak orang di skena musik punk bingung, bercampur dengan berbagai ideologi politik yang berbeda.” Akibatnya para musisi punk rock menjadi target bulan-bulanan monarki, media massa, parlemen, dan polisi. Menurut Strummer, tujuannya jelas adalah untuk memberikan pesan politik serius. Jelas juga bagi Strummer bahwa masa-masa awal musik punk rock rentan terhadap kooptasi oleh industri musik di satu sisi dan musisi-musisi oportunistis di sisi lain. Ia menunjukkan hal ini lewat lagu White Man in Hammersmith Palais:

Punk rockers in the UK/Punk Rockers di Britania
They won’t notice anyway/Mereka tidak akan sadar
They’re all too busy fighting/Mereka semua terlalu sibuk bertengkar
For a good place under the lighting /Berebut tempat bagus di bawah cahaya

The new groups are not concerned/Grup-grup baru tidak peduli
With what there is to be learned/tentang apa yang harus dipelajari
They got Burton suits, hah you think it’s funny/Mereka punya kemeja, Burton, hah, kau pikir lucu rupanya
Turning rebellion into money/Mengubah perlawanan menjadi uang

All over people changing their votes/Orang disini-sana mengubah votingnya
Along with their overcoats/sekaligus dengan jas-jasya
If Adolf Hitler flew in today/kalaupun Adolf Hitler datang hari ini
They’d send a limousine anyway/Pasti akan mereka kirim Limosin

Strummer menyalahkan banyak band di masa itu yang membiarkan punk rock merosot menjadi “produk memalukan yang dimangsa perusahaan-perusahaan rekaman” dan “digunakan untuk mempromosikan gagasan-gagasan sayap kanan”. Tidak sudi menjadi bagian kreatif dan sosial filosofi punk rock yang sudah dioplos seperti itu. Album studio pertama The Clash menandai dimana pendirian mereka.

Album “The Clash” menghadapi berbagai isu sosial termasuk isu kelas, rasisme, dan brutalitas polisi serta negara. Dengan menghimpun sejumlah luas pengaruh musik, yang sebelumnya memang dipisah-pisahkan oleh strategi-strategis pemasaran industri musik, album ini mengubah musik modern secara signifikan. Terdapat pengaruh rock klasik, campuran R&B, pecahan pop, campuran seimbang antara ska, dub, dan reggae, serta tentu saja apa yang menjadi ciri khas bunyi The Clash: lirik-lirik yang memancing pikiran yang dinyanyikan dalam akses Cockney Strummer yang unik, suatu aliran marah yang panas dengan komposisi musik yang agresif.

Muusik The Clash yang diberangi dengan penampilan-penampilan live yang meledak-ledak, membuat orang-orang tahu bahwa mereka bunyak hanya kelompok kreatif namun juga punya pernyataan penting terhadap berbagai hal. Meskipun hanya diproduksi sedikit, album pertama The Clash, menjadi impor paling laris AS sepanjang sejarah. Rakyat Amerika suka dengan musik The Clash dan pesan-pesan yang disuarakannya, ini dicatat perusahaan-perusahaan rekaman.

Strummer mengatakan, “Isu-isu yang juga kami perjuangkan adalah isu-isu yang sekarang semakin penting yaitu melawan Imperialisme Britania dan AS,” lanjutnya. “Saat kami menulis I’m So Bored with the U.S.A., hal itu menyentuh banyak pemuda di kedua sisi samudera Atlantik.” Liriknya tajam dan menggugah:

Yankee dollar talk/Dolar Amerika bicara
To the dictators of the world/Kepada para diktator sedunia
In fact it’s giving orders/Nyatanya ia memberikan perintah
An’ they can’t afford to miss a word/dan mereka menuruti semua katanya

Lagu-lagu lain mengangkat tumbuhnya kekecewaan para pemuda yang merasakan kenyataan keras pasar kerja di tahun 1976. Career Opportunities menjadi lagu protes klasik bagi banyak orang:

They offered me the office, offered me the shop/Mereka menawariku kerja di kantor, kerja di perusahaan
They said I’d better take anything they’d got/Katanya lebih baik aku terima semua yang mereka tawarkan
Do you wanna make tea at the BBC?/Kamu mau kerja bikin teh di stasiun TV BBC?
Do you wanna be, do you really wanna be a cop?/Kamu mau jadi polisi
Career opportunities are the ones that never knock/Kesempatan karir tidak pernah datang
Every job they offer you is to keep you out the dock/Tiap kerja yang mereka tawarkan membuatmu tetap jadi bawahan
Career opportunity, the ones that never knock/Kesempatan karir tidak pernah datang

Masyarakat industrial sebenarnya tidak menawarkan apa-apa, dan semakin kita berada dalam masyarakat terfragmentasi ini yang lebih menekankan teknologi negara untuk membuat kita bekerja menurut kelas kita…ini semua sebenarnya tentang mengendalikan kelas, khususnya kelas bawah.”

The Clash dan Amerika

Tahun 1979, The Clash pergi ke Amerika. Di antara tur ini, album pertama The Clash telah menaklukkan Britania dan Eropa. Mereka kemudian merilis album lainnya Give ‘Em Enough Rope serta tengah berada dalam proses menghimpun dan membuat mahakarya The Clash, London Calling. ‘”Ada dua hal yang sangat merusak terjadi pada masa itu,” kenang Strummer. “Margaret Thatcher menjadi Perdana Menteri Inggris dan Ronald Reagan menjadi Presiden AS…susah membedkan mana yang lebih parah namun kami semua tahu perjuangan hebat menanti di depan…karena mereka bersandar pada ekstrim kanan kalau bukan fasisme.”

The Clash 04 dan Bob Diddley

The Clash selalu menarik inspirasi dan memberikan penghargaan pada para musisi perlawanan lainnya, khususnya para musisi kulit hitam dari AS dan Karibia. Maka saat mereka berkolaborasi dengan para musisi inilah mereka langsung berlari menabrak rasisme musik industri (dan juga dari sebagian penggemar mereka). Saat melakukan tur di AS, The Clash telah memilih seniman rock and roll pionir, Bod Diddley, sebagai konser pembuka mereka. Diddley adalah pahlawan bagi Strummer. The Clash sebenarnya antusias dan berharap bahwa tur itu akan membantu mereka menghubungkan diri dengan audiens Amerika. Bagaimanapun juga mereka tersentak oleh pekatnya rasisme yang dihadapi tur The Clash di Selatan AS karena kehadiran Diddley. “Label rekaman tidak mendukung sama sekali dari awal karena album “Give ‘Em Enough Rope tidak menjual seperti album pertama kami, mereka benci pilihan kami atas Bo Diddley, dan karena kami menolak memilih seniman pembuka lainnya, dan menolak upaya mereka untuk mengemas kami sebagai band new wave.” Strummer dan teman-teman seband nya bertekad untuk melawan tekanan dari bos-bos industri musik yang ingin mendandani punk rock menjadi new wave yang lebih komersil, kurang politis, dan jinak.

Kurangnya dukungan rekaman itu baru awalnya saja. Strummer masih ingat betul kekecewaannya terhadap pers buruk yang menyambut The Clash di AS dan mencap mereka sebagai “evil punk rockers” atau “para punk rocker yang jahat” yang ingin “menyebarkan komunisme kepada para pemuda Amerika”. Tur singkat enam hari itu semakin mempolitisir Strummer. Ia merasa matanya terbuka atas kenyataan “komodifikasi musik” dan “menunjukkan kebencian habis-habisan serta tentangan sengit terhadap apapun yang berusaha tumbuh di luar struktur ekonomi dan sosial yang dominan”. Sedangkan di sisi lain terdapat beberapa pertunjukan seperti penampilan legendaris di New York’s Palladium yang mengajarkan Strummer pelajaran penting. “Kita harus menggunakan situasi-situasi negatif” kata Strummer, “untuk merefokus dan mengarahkan kembali kemarahan dan frustasi melalui musik yang menguatkan bagi semua yang mendengarkannya. Ini selalu membuat marah status quo.”

London Memanggil dan Begitu Juga Sandinista

The Clash 06 London Calling

Setelah menuntaskan tur Amerika, The Clash mulai album mereka berikutnya, London Calling. Album ini menunjukkan kedewasaan dan pertumbuhan di banyak area. Secara musikalitas London Calling menyertakan musik roots, folk, New Orleans R&B, reggae, pop, lounge, jazz, ska, hard rock, dan punk. Album ini direkam di New York City dan masih berpengaruh sampai hari ini. Bahkan anak yang tumbuh di keluarga imigran dan menghabiskan masa kecilnya di daerah industrial merasakan kedekatannya dengan tema-tema, musik, dan sikap London Calling.

Salah satu lagu, yaitu Clampdown, menunjukkan dan mengangkat kondisi di bawah masyarakat kapitalis. Lagu ini, pada intinya, menunjukkan kontradiksi-kontradiksi yang memaksa kita percaya bahwa kalau saja kita bekerja keras, tidak mengeluh, tidak bikin geger, kita bisa maju. Injaklah siapapun yang kau inginkan, tidak masalah, berusahalah jadi nomor satu, inilah pandangan kapitalis yang diangkat dan dikritik dalam lagu The Clash.

Lagu ini mencerminkan kegelisahan dan frustasi para pemuda kelas buruh yang hanya mendapatkan pilihan pekerjaan kasaran, aparatus represif, atau bergabung dengan gerakan sayap kanan rasis.

You grow up and you calm down/Kau tumbuh dan tenang
You’re working for the clampdown/Kau bekerja untuk penindas
You start wearing the blue and brown/Kau mulai memakai seragam polisi
You’re working for the clampdown/Kau bekerja untuk penindas
So you got someone to boss around/Lalu kau punya orang untuk dijadikan bulan-bulanan
It makes you feel big now/Kau merasa besar sekarang
You drift until you brutalize/Kau terus menyimpang sampai berbuat kejam
You made your first kill now/Kini kau membunuh untuk pertama kalinya

Lagu yang sama juga memperjuangkan suatu alternatif, ini tema yang umum ditemukan dalam lagu-lagu The Clash, yaitu perlunya pemberontakan kelas buruh:

The judge said five to ten—but I say double that again/Hakim bilang lima sampai sepuluh—kataku lipat gandakan lagi
I’m not working for the clampdown/Aku tak bekerja untuk penindas
No man born with a living soul/Tak ada manusia yang lahir dengan jiwa yang hidup
Can be working for the clampdown/Bisa bekerja bagi para penindas
Kick over the wall, cause government’s to fall/Robohkan temboknya, jatuhkan pemerintah
How can you refuse it?/Bagaimana bisa kau menolaknya
Let fury have the hour, anger can be power/Biarkan angkara bicara, murka bisa jadi kekuatan
D’you know that you can use it?/Tahukah kau itu bisa kau gunakan

Yeah” kata Strummer, “lagu ini dan seluruh pesan kami adalah upaya untuk membangunkan, menarik perhatian, terhadap apa yang tengah terjadi di sekelilingmu, baik secara politis, sosial, semuanya…sebelum kau sadar kau menjadi apa yang kau benci.” Album ini melambungkan The Clash masuk perhatian internasional. Mereka memainkan musiknya dan dunia mendengarkan. Menjadi band rock terbesar di dunia saat itu meningkatkan perhatian dan sekaligus kritik-kritik keras, terutama terkait pendirian politik Strummer dan kelompoknya.

The Clash 07 Sandinista

Provokasi dan serangan-serangan sayap kanan meningkat sepuluh kali saat The Clash dengan terang-terangan mendukung Revolusi Sandinista. “Dukungan kami terhadap Sandinista adalah hal terburuk yang bisa kami lakukan menurut label rekaman kami” kenang Strummer, “Kepala-kepala label rekaman mengatakan musik kami tidak akan laku—terlalu politis—khususnya di Amerika dimana pemerintah Reagan berkonspirasi untuk menghancurkan Sandinista.” Album Sandinistas memuat lagu Washington Bullets yang ditulis Strummer untuk mengkritik campur tangan AS di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, sembari menunjukkan Jimmy Carter menarik bantuannya terhadap rezim Samoza di menit-menit penghabisan.

As every cell in Chile will tell/Tiap sel penjara di Cile akan bercerita
The cries of the tortured men/Jeritan orang-orang yang disiksa
Remember Allende, and the days before,/Ingatlah Allende, dan hari-hari sebelumnya
Before the army came/Sebelum tentara berkuasa
Please remember Victor Jara,/Ingatlah Victor Jara
In the Santiago Stadium,/di Stadion Santiago
Es verdad—those Washington bullets again/Lagi-lagi peluru Washington

For the very first time ever,/Untuk pertama kalinya
When they had a revolution in Nicaragua,/Mereka punya revolusi di Nikaragua
There was no interference from America/Tidak ada intervensi dari Amerika
Human rights in America/Hak Asasi Manusia di Amerika

Well the people fought the leader,/Kini rakyat melawan penguasanya
And up he flew,/Maka larilah dia
With no Washington bullets what else could he do?/Tanpa peluru-peluru Washington apalagi yang bisa dilakukannya

Tahun 1980, The Clash merilis album tiga keping sekaligus: Sandista. Perseteruan panjang dengan label mereka, Epic Records, menjadi semakin sengit saat The Clash menuntut album itu dijual dengan harga terjangkau. The Clash ingin agar album tiga keping tersebut dijual dengan harga satu keping. Epic Records akhirnya mengalah namun setelah memaksa The Clash untuk setuju membayar selisih ongkosnya dengan uang mereka sendiri. “Keputusan-keputusan politik memang tidak pernah bisa seimbang dengan bisnis kecuali kalau itu adalah keputusan-keputusan berdasarkan politik kapitalis…kalau kami membuat album yang mendukung Contras jelas lain ceritanya”, canda Strummer. Entah karena permusuhan dari Epic, kontroversi politik, atau para penggemar yang mulai jenuh dengan eksperimentasi musik terus-menerus dari The Clash, penjualan Sandinista memang mengecewakan bila dibandingkan London Calling. Meskipun demikian, para pengikut The Clash malah semakin meningkat.

Sukses Besar Lalu Kandas

Album Combat Rock, dirilis tahun 1982, lagi-lagi menyoroti kedasaran sosial dan politik kiri yang merupakan ciri khas The Clash dan Joe Strummer. Dengan dirilisnya single, Rock The Clasbah, The Clash mencapai sukses besar. Lagu ini sebenarnya ditulis sebagai respon riang terhadap fatwa haram beberapa ulama terhadap musik rock. Namun ironisnya para Imperialis membajaknya dan menyalahgunakannya demi kepentingan mereka sendiri. “Kau tahu militer AS memainkan lagu ini di Perang Teluk Pertama untuk tentara-tentara mereka dan kini mereka menggunakannnya lagi untuk menyiapkan perang lainnya,” kata Strummer, “ini memang tipikal dan hina.”

Saat konser di Stadion Shea di Queens, New York, tahun 1982, The Clash memainkan serangkaian pertunjukan dengan tiket terjual habis, mirip dengan The Beatles sebelumnya. Ini adalah konser-konser terakhir dengan Mick Jones, yang dipaksa keluar oleh Strummer dan manajer band The Clash. Strummer mengaku, “Aku melakukan salah satu kesalahan terbesar dalam hidupku dengan memecat Mick.” Setelah merilis album buruk di tahun 1985, The Clash akhirnya dibubarkan selamanya. Sedihnya, Strummer dan Jones tidak pernah lagi berbagi panggung sampai konser amal yang merupakan pentas publik terakhir Strummer tersebut.

Aku akan Terus Berjuang untuk Apa yang Kuanggap Benar”

Originalitas Strummer adalah ciri khusus dirinya baik sebagai musisi maupun sebagai seorang manusia. Ia terlahir kembali dengan proyek musik terakhirnya, The Mescaleros. Musik barunya menampilkan etos kerja luar biasa baik secara kreatif maupun secara positif. Terlepas dari apa yang ia capai sampai saat itu dalam karirnya, ia tidak pernah berhenti berkarya.

Strummer dan Mescaleros merekam dua album studio yang sangatlah inovatif, Rock Art and the X-Ray Style tahun 1999 dan Global A Go-Go di tahun 2001. Musik yang direkam Joe Strummer dengan The Mescaleros sangatlah beraneka ragam seara kultural. Ada pengaruh rockabilly, rock and roll tradisional, dan R&B, namun ditambah campuran bunyi-bunyi baru. Strummer mengusung musik-musik dari Afrika, Amerika Latin, dan India Barat, termasuk dosis tinggi beat hip-hop.

Joe Strummer and The Mescaleros

Musik yang diproduksi Joe Strummer sangatlah berbeda dari karya sebelumnya. Dalam suatu wawancara ia pernah memperingatkan para pemuda agar tidak membeli musik barunya bila apa yang mereka inginkan hanyalah pengulangan Rock The Casbah. “Band-band baru bermunculan dan mengatakan kami cinta the Clash namun mereka tidak punya kepedulian dan juga tidak paham sejarah” baik secara kultural maupun politis. Ia menambahkan bahwa mereka, “membeli dan mengharap mendengarkan lagu-lagu seperti Rock The Casbah, yang sama sekali bukan apa yang aku kerjakan sekarang dan lagi pula Casbah itu gampang,” ungkapnya.

Sama seperti karyanya dengan The Clash, musik baru dengan Mescaleros bersifat original dan politis namun lebih dewasa dan penuh wawasan. Dengan pertumbuhan musiknya ada kesadaran politik yang semakin dalam, tercermin dalam komposisi yang puitis dan mengejutkan, serta menyertakan lirik-lirik terkait isu-isu global. Kedua album, khususnya Global A Go-Go, memuat bagaimana pandangan Strummer tentang bagaimana perang, kemiskinan, dan intoleransi mencabik-cabik dunia. Lagu-lagu seperti Johnny Appleseed mengkritik dampak-dampak globalisasi dan Bhindi Bhagee membahas perlunya tolerasi antar etnis. Lagu-lagu yang cerdas bagaikan meditasi-meditasi Woody Guthrie namun dengan kesadaran internasionalis multi-kultural yang berdiri menentang melawan kapitalisme global. Shaktar Donetsk mengangkat nasib para pengungsi yang mencari suaka ilegal di Inggris, yang berdesak-desakan dalam truk penyelundup.

Welcome to Britain! In the Third Millennium/Selamat datang di Britania! Di Milenium ketiga!
This is the diary of a Macedonian/Inilah Diary seorang Macedonia
He went to Britain in the back of lorry/Ia ke Inggris naik Lori
Don’t worry, don’t worry, don’t hurry/Jangan khawatir, jangan buru-buru
Said the man with a plan/Kata orang yang punya rencana
He said, if you really wanna go/Katanya, kalau kau memang mau pergi
You’ll get there in the end/Kau pasti bisa sampai sana
If you really wanna go/Kalau kau memang ingin pergi
Alive or dead my friend/Hidup atau mati, kawanku
Well you can levitate you know/Kau tahu itu semua tergantung
Long as the money’s good you’re in/Besarnya uang yang kau miliki

Ada beberapa karya Strummer yang belum selesai, salah satunya proyek kolaborasinya untuk membuat lagu 48864. Lagu yang judulnya diambil dari nomor penjara Mandela. Selain itu The Clash juga sudah berencana membuat konser reuni satu malam di upacara penasbihan Rock-N-Roll Hall of Fame di Maret 2003.

Billy Bragg berbicara pada hari meninggalnya Strummer, “Joe selalu membuat terobosan baik secara musikalitas maupun secara politis…ia adalah salah satu seniman terakhir yang tidak takut berada di politik kiri dan menjadi duri bagi kapitalisme.” Chuck D, seniman pelopor rap dan anggota pendiri Public Enemy, menghargai Strummer dan kelompok seperti The Clash yang “menunjukkan bagiku bahwa musik bisa jadi kekuatan sosial kuat dan harus dipakai untuk melawan sistem.”

Di akhir tiap pementasan, Strummer dan Mescaleros memainkan lagu cover dari lagu perlawanan klasis berjudul The Harder They Come, the Harder They Fall karya musisi reggae Jimmy Cliff. Dengan gitar Telecasternya yang sama yang dipakainya selama lebih sejak 25 tahun lalu, Strummer bernyanyi:

And I keep on fighting for the things I want/Dan aku akan terus berjuang untuk hal-hal yang aku inginkan
Though I know that when you’re dead you can’t/Meskipun aku tahu saat kau mati kita tak bisa lagi melakukannya
But I’d rather be a free man in my grave/Namun lebih baik aku menjadi orang merdeka yang mati
Than living as a puppet or a slave…/Daripada hidup sebagai boneka dan budak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: