Kamerad

yuri-yegorov-a-peace-demonstration-1960s

Kamerad berarti “kawan”, “kolega”, atau “partner”. Istilah ini datang dari bahasa Perancis camarade. Kata ini sering digunakan oleh organisasi-organisasi kiri[i] di seluruh dunia. “Kamerad” dengan demikian telah menjadi kata sapa dan kata ganti. Meskipun demikian untuk tiap daerah atau negara seringkali memiliki padan katanya masing-masing.

Latar Belakang

Penggunaan istilah ini secara politis dipicu dan terinspirasi oleh Revolusi Perancis dimana untuk menghapus gelar-gelar berikut hak-hak istimewa kebangsaan maka istilah monsieur dan madame yang saat itu bermakna harafiah “tuanku”. Sebagai gantinya semua orang saat itu disebut dengan citoyen untuk laki-laki dan citoyenne untuk perempuan, yang keduanya sama-sama bermakna harafiah warga negara. Sebagai contoh, ketika Raja Louis XVI digulingkan, ia kemudian disebut sebaga Citoyen Louis Capet untuk menekankan penghapusan semua hak-hak istimewa atau hak-hak kebangsawanannya.

Ketika gerakan sosialis meraih momentumnya di pertengahan abad ke-19, kaum sosialis mulai mencari alternatif egaliter untuk istilah-istilah seperti “Mister” atau Tuan, “Miss” atau Nyonya, atau Nona. Mereka kemudian memilih comrade atau kamerad sebagai kata ganti yang disetujui bersama. Di Jerman praktek ini dimulai pada tahun 1875, seiring pendirian Partai Pekerja Sosialis Jerman. Sedangkan di Inggris, penggunaan pertama istilah ini dengan makna yang sama, tercatat dimulai pada tahun 1884 dalam majalah sosialis Justice atau “Keadilan” (Sumber: Wikipedia seksi Inggris mengutip karya Anrede “Genosse” nicht mehr zeitgemäß dan karya Otto Ladendorf berjudul Historisches Schlagwörterbuch (1906)).

PENGGUNAAN “KAMERAD” DAN PADAN KATANYA DI BERBAGAI NEGARA/DAERAH

Penggunaan di Jerman

Jerman menggunakan penerapan dua kata yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Kamerad untuk laki-laki dan Kameradin untuk perempuan, yang mana keduanya digunakan sebagai padan kata paling umum terhadap camarade dalam pengertian non-politis. Secara tradisional telah digunakan sebagai kata ganti dengan bentuk lebih akrab untuk mengacu pada anggota militer. Misalnya prosesi pemakaman di Jerman untuk tentara yang gugur diiringi dengan lagu Ich Hatt Einen Kameraden (Saya pernah memiliki seorang Kamerad). Begitu pula padan kata untuk teman sekelas di Jerman disebut Klassenkamerad (Kamerad Sekelas) sedangkan kata Schulfreund hanya digunakan untuk mereka yang memiliki hubungan akrab (meskipun saat ini kata Freund telah semakin sering digunakan). Dari penggunaan kamerad yang menyebar selama Perang Dunia I, istilah ini kemudian memasuki kosakata Partai NAZI, namun hanya digunakan antara “Pejuang Tua” yang mayoritas merupakan veteran perang. Dengan demikian, karena gaya kemiliterannya, hal ini seringkali diasosiasikan dengan ke-Neo Nazi-an. Bagaimanapun juga, “Kamerad” juga digunakan sebagai kata ganti antar tahanan di kamp konsentrasi, bahkan juga digunakan istilah-istilah “Genosse” (lihat di bawah)

Genosse (Genossin untuk perempuan), bermakna “kawan”, “rekan” atau “mitra”, dan merupakan kata Jerman utama untuk kamerad dalam makna politis (di luar ranah politik, kata itu digunakan dalam kata-kata seperti Hausgenosse, atau “kawan serumah”). Kata itu pertama kali diperkenalkan sebagai kata ganti dalam bentuk politis pada tahun 1875 oleh oleh German Social Democrats (kaum Demokrat Sosial Jerman), ketika mereka mendirikan apa yang kemudian menjadi Partai Pekerja Jerman dengan tendensi Marxis (penerus Partai Demokratik Sosial Jerman) sebagaimana yang dikutip Anrede dalam “Genosse” nicht mehr zeitgemäß dan Otto Ladendorf dalam Historisches Schlagwörterbuch (1906). Kata Genosse ini dimaksudkan seabagai terjemahan dari Latin socius (“berbagi”, “partner”, “kawan”, “kolega”, “mitra”), sebagaimana yang tercermin dalam kata-kata “sosial” dan “sosialisme”. Secara etimologis, Genosse bisa dilacak hingga bahasa Jerman tua genōze, dengan makna yang sama, dari nōz yang bermakna “ternak produktif” yang aslinya adalah seseorang yang berbagi ternak atau tanah garapan (dengan orang lain)”, oleh karena itu berarti “seseorang yang menggunakan atau menikmati (geniesst) sesuatu bersama (dengan orang lain)” Demikianlah kerjasama semacam itu disebut Genossenschaft.

Bentuk resmi kata ganti antar anggota Partai Nazi adalah Parteigenosse, suatu adaptasi dari kata Genosse. Dengan mengadopsi Parteigenosse (“Kawan Separtai”) pihak NSDAP mencoba meraih pendukung dari kelas pekerja serta mempengaruhi dengan membuat golongan berdasarkan hubungan-hubunngan kedekatan, yang mana merupakan tipikal partai-partai Kiri, namun bukan tipikal partai-partai tradisional Kanan. Ketika rezim NAZI berkuasa, kata ini kemudian disematkan kepada orang Jerman secara keseluruhan, berupa Volksgenosse (kamerad satu ras) yang mengindikasikan keanggotan dalam “komunitas rasial” (Volksgemeinschaft).

Kini dalam dunia politik Jerman Kontemporer baik Genosse maupun Genossin masih digunakan walapun dengan frekuensi yang lebih sedikit, terutama hanya di Partai Demokratis Sosial dan Kaum Kiri.

Penggunaan di Rusia

Makna penggunaan (lama) dari versi rusia atas istilah ini, yaitu Tovarisch berasal dari bahasa Turki Lama Tavar Ishchi, bermakna “mitra kerja” atau “teman perjalanan (kawan petualangan)”. Kata ini berasal dari kata benda Tovar bermakna buah tangan. Pada abad ke-19, kelompok Marxis Rusia dan revolusioner kiri lainnya mengadopsi Tovarisch (yang disingkat tov.) sebagai padan kata Kamerad yang digunakan sebagai kata ganti secara internasional oleh kalangan Sosial Demokrat (khususnya Jerman) dan di beberapa bagian yang terkait dengan gerakan kelas pekerja secara internasional. Misalnya seseorang bisa disebut dengan Kamerad Plekhanov, Kamerad Ketua, atau Kamerad saja. Setelah Revolusi Rusia, penerjemahan istilah tersebut ke dalam berbagai bahasa dan berbagai padan katanya dilakukan oleh kaum Komunis di seluruh di dunia. Sebagai hasilnya, meskipun banyak kalangan sosialis lainnya akan tetap menggunakan istilah “Kamerad” di antara mereka sendiri (misalnya kelompok Sosial Demokrat Jerman dan Australia, serta Partai Buruh Inggris, untuk jangka waktu yang lama), namun kata ini menjadi identik di mata publik dengan komunisme ala Soviet, khususnya varian Marxis Leninis, Stalinis, dan Trotskyis. Hal ini kemudian kerap dijadikan ledekan oleh kalangan anti komunis dalam penggambaran stereotip Uni Soviet dalam film-film dan buku-buku di masa perang dingin.

Pada tahun-tahun pertama kekuasaan Soviet di Rusia, kaum Bolshevik menggunakan “Kamerad” ketika mengacu atau menunjuk pada orang-orang yang dianggap bersimpati dengan revolusi dan negara Soviet, seperti anggota Partai komunis (maupun kelompok-kelompok kiri lain yang pro terhadap revolusi seperti Revolusioner Sosialis Kiri) dan rakyat dari “kelas pekerja”. Kelompok republikan yang cenderung lebih netral menggunakan kata ganti “Warga”. Sementara itu para pendukung dari Gerakan Putih dalam Perang Saudara Rusia kerap menggunakan “Kamerad” sebagai ledekan untuk mencela musuh-musuh mereka—meskipun di saat yang bersamaan, berbagai macam kelompok sosialis yang anti-Bolshevik seperti Revolusioner Sosialis (Kanan) dan kalangan Mensheviks juga menggunakan “Kamerad” di anatara mereka.

Sejak pertengahan 1920an, bentuk kata ganti “Kamerad” menjadi begitu umum dijumpai di Uni Soviet sehingga digunakan secara merata dengan esensi yang sama dengan istilah seperti “Mister” dan “Sir” yang digunakan di Inggris. Penggunaan demikian bertahan hingga runtuhnya Uni Soviet. Meskipun demikian pemakaian ini muncul hanya di beberapa konteks sedangkan para kriminal dan terdakwa hanya disebut sebagai “Warga” dan bukannya “Kamerad”, sementara itu penolakan untuk menyebut seseorang dengan tidak menggunakan “Kamerad” umumnya akan dianggap sebagai tindakan tidak bersahabat bahkan di rezim Stalin hal itu dituduh sebagai suatu praktek anti-Soviet.

Istilah tersebut kini tidak sering digunakan di masyarakat Rusia kontemporer namun masih merupakan istilah standar kata ganti dalam angkatan bersenjata dan kepolisian, ketika petugas dan tentara umumnya disebut seperti sebgaia “Kamerad Kolonel”, “Kamerad Jendral”, “Kamerad Sersan” atau semacamnya. Istilah ini juga diginakan sebagai bagian dari idiom, misalkan: tovarishch po neschast yu (kawan penderita, yang diambil dari bahasa Jermen Leidensgenosse) atau sebagai bagian pembentuk kata baru seperti tovarishchestvo (partnership atau kerjasama) yang mana kata-kata tersebut tidak berasosiasi dengan komunisme.

Penggunaan di Tiongkok

Tiongkok mengadopsi penggunaan “kamerad” dengan memakai padan katanya dalam bahasa tionghoa yaitu Tongzhi, “同志” (pinyin: tóng zhì), yang secara harafiah bermakna “(orang(orang) dengan kesamaan semangat, tujuan, dan cita-cita” Penggunaannya dalam ranah politis pertama kali diperkenalkan oleh Sun Yat Sen untuk menyebut para pengikutnya..

Sun Yat Sen kemudian mendirikan Kuomintang (Partai Nasionalis), yang memiliki sejarah panjang dalam menggunakan Tongzhi (Kamerad) untuk menyebut anggota-anggotanya, walaupun kata ini lebih sering digunakan sebagai kata benda daripada sebagai kata ganti. Misalkan, seorang anggota Kuomintang (KMT) akan berkata “Tuan Chang adalah kamerad yang loyal dan sangat bisa diandalkan[ii]

Meskipun demikian, istilah ini kemudian dipopulerkan paling aktif oleh Partai Komunis Tiongkok selama perebutan kekuasaannya. Istilah tersebut kemudian digunakan baik sebagai kata benda maupun sebagai gelar dan kata ganti untuk setiap orang di Tiongkok daratan setelah pendirian Republik Rakyat Tiongkok. Misalnya, para perempuan disebut nü tongzhi yang bermakna kamerad perempuan, anak-anak disebut dengan xiao tongzhi (kamerad kecil) dan para senior disebut lao tongzhi (kameran tua). Namun setelah dekade 1980an dan semenjak reformasi-reformasi Tiongkok yang berorientasi pasar, istilah ini sudah semakin ditinggalkan dalam percakapan sehari-hari. Pemakaiannya bertahan sebatas pada sebutan hormat kaum lanjut usia di Tiongkok dan terhadap anggota Partai Komunis Tiongkok. Di dalam Partai komunis Tiongkok itu sendiri, kegagalan untuk menyebut seorang anggota senior dengan tongzhi memang dipandang bukan sebagai sesuatu yang vital namun tetap saja secara jelas dianggap kurangnya rasa hormat.

Dalam pertemuan partai atau pertemuan publik secara formal, istilah tersebut tetap dipertahankan. Petugas atau pejabat resmi seringkali menyebut satu sama lain sebagai Tongzhi, dan karena itu penggunaannya tidak sebatas pada anggota Partai Komunis Tiongkok saja. Sebagai tambahan Tongzhi adalah istilah preferensi untuk menyebut tokoh pemimpin nasional, ketika gelarnya tidak disertakan, contohnya Kamerad Mao Tse Tung atau Kamerad Chou En Lai.

Sedangkan daerah Tionghoa lainnya seperti Hong Kong dan Makao tidak memiliki penggunaan “kamerad” dalam bahasa lokalnya. Hal ini dipengaruhi oleh lamanya pendudukan dan administrasi oleh kekuatan-kekuatan Barat yang menyebabkan adanya perbedaan paradigma bahasa terhadap penduduk Tionghoa di daerah-daerah tersebut.

Sejak dekade 1990an, istilah Tongzhi itu, kemudian makin sering digunakan untuk mengacu pada minoritas seksual di Tiongkok, termasuk Kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Penggunaan istilah ini pertama kali diadopsi dalam Festival Film Lesbian dan Gay di Hong Kong pada tahun 1989, dengan tujuan mewakili hubungan-hubungan sejenis yang positif dan menyarankan solidaritas antar kaum LGBT, sekaligus menyediakan istilah lokal untuk menangkap pengalaman orang Tionghoa dalam cinta sejenis daripada istilah tóngxìnglìan (同性戀) yang mereka anggap terlalu klinis dan patologis[iii]. Penggunaan Tongzhi  daripada tóngxìnglìan ini berjalan secara paralel dengan penggantian kata “homoseksual” dengan “gay” di wacana Barat. Pada tahun-tahun belakangan ini, istilah-istilah Barat seperti “gay” dan “LGBT” juga kian digunakan baik di Tiongkok maupun di Taiwan.

Penggunaan di Afrika Selatan

Penggunaan “Kamerad” di Afrika Selatan dikaitkan dengan perjuangan pembebasan secara umum dan juga terkait Kongres Nasional Afrika atau African National Congress (ANC) secara umum. Para anggota dari serikat-serikat yang terkait ANC melalui federasi serikatnya menggunakan “kamerad” untuk menyebut satu sama lain. Kamerad juga bisa digunakan sebagai cara mendeskripsikan seseorang yang merupakan aktivis, walaupun memiliki kaitan dengan ANC dan juga dengan perjuangan melawan apartheid atau ketidaksetaraan ekonomi. Meskipun demikian, penamaan Marathon Kamerad (salah satu even di Afrika) tidak memiliki hubungannya sama sekali dengan hal ini, karena dilakukan untuk memperingati tentara yang gugur dalam Perang Dunia I (PD I).

Di Zimbabwe, istilah ini hanya digunakan untuk orang-orang yang berhubungan dengan partai yang berkuasa, ZANU-PF (Zimbabwe African National Union – Patriotic Front atau Serikat Nasional Afrika Zimbabwe – Front Patriotik) dimana media negara menggunakan “Cde” sebagai singkatan untuk “Kamerad”. Sebaliknya para anggota dari kalangan oposisi, terutama Gerakan untuk Perubahan Demokratik seringkali menyebut nama dengan panggilan Mr, Mrs, atau Prof.

Zimbabwe African Peoples` Union  (ZAPU) atau Serikat Rakyat Afrika Zimbabwe juga memanggil anggota-anggotanya dengan “kamerad”. Aslinya memang ZAPU lah, awal gerakan pembebasan di Zimbabwe. ZANU-PF sendiri merupakan pecahannya.

Penggunaan di Indonesia[iv]

Indonesia sendiri memiliki sikap yang unik dalam menyerap dan menggunakan “Kamerad”. Terdapat dua kata serapan dan empat padan kata di Indonesia. Dua kata serapan itu adalah Komrad dan Kamerad. Sedangkan padan kata yang dimunculkan dari bahasa Indonesia adalah Kawan (untuk mengacu baik pada laki-laki maupun perempuan, Bung (untuk mengacu pada laki-laki), Zus (untuk mengacu pada perempuan), dan Jeng (untuk mengacu pada perempuan). Penggunaan kata-kata tersebut sangat marak dipakai seiring dengan kebangkitan pergerakan modern di Indonesia. Istilah-istilah tersebut umumnya digunakan baik oleh kalangan komunis, sosialis, maupun nasionalis dan di dalam organisasi mereka seperti serikat-serikat buruh, serikat rakyat, Indische Partij (Partai Hindia yang didirikan Tiga Serangkai Douwes Dekker, Tjipto Mangoen Koesoemo, dan Ki Hadjar Dewantara), PKI, PNI, Parindra, Partindo, PSI, dan sebagainya. Popularitas ini disebabkan ide-ide kesetaraan atau egalitarianisme bersanding dengan ide-ide untuk perjuangan rakyat dan pembebasan nasional. Inilah yang kemudian mempopulerkan penyebutan “Bung Karno”, “Bung Hatta”, “Bung Sjahrir”, “Kawan Semaun”, “Kamerad Musso”, dan lain sebagainya. Sebutan ini berlangsung mulai dari masa pergerakan di awal abad 20 hingga pada rezim Demokrasi Terpimpin.

Berdirinya Orde Baru kemudian membuat sebutan-sebutan ini diberangus. Gun Agustus, seorang penulis dari Bandung memotret perubahan ini dalam tulisannya Bung Sebagai Sapaan Egaliter dengan mengungkap bahwa pemberangusan ini berjalan seiring dengan penguatan feodalisme, pengembalian ketidaksetaraan, dan pembangunan kesenjangan sosial. Tidak hanya kata “Kamerad”, “Kawan”, “Bung” dan sebagainya yang diberangus, kata-kata seperti “Revolusi”, “Buruh”, dan banyak kata lainnya juga lama kelamaan dikurangi dan dihilangkan.

Perjuangan melawan tirani Orde Baru (Orba) yang dimotori oleh gerakan mahasiswa yang berujung pada munculnya Reformasi membawa matahari baru bagi tumbuh kembalinya kata-kata sebutan egaliter ini. Kata-kata sapaan seperti “Kawan”, “Bung”, “Jeng”, “Zus” dan sebagainya mulai kembali digunakan khususnya oleh organisasi-organisasi pergerakan baik di sektor mahasiswa, buruh, tani, kaum miskin kota, maupun di sektor-sektor lainnya. Pengalaman saya sendiri membuat saya menyaksikan bahwa organisasi mahasiswa seperti GMNI, FMN, LMND, SMI, PEMBEBASAN, GMKI, dan berbagai organisasi lainnya selalu menggunaan sapaan “Bung”, “Jeng”, dan “Zus”. Sementara di tataran Pers Mahasiswa (Persma) kata “Kawan” lebih sering digunakan. Kata-kata tersebut digunakan hampir dalam tiap diskusi, rapat, konferensi, mimbar bebas, maupun dalam demonstrasi. Tinggal kata “Kamerad” saja yang hingga hari ini tetap nyaris tidak pernah digunakan. Semoga dengan semakin besarnya gelombang perjuangan rakyat, kata-kata sebutan egaliter ini kembali akan menemukan tempatnya di hati kaum tertindas baik kelas buruh, kaum tani, mahasiswa, kaum miskin kota, ataupun kalangan perempuan, dan semoga juga sebaliknya memberikan peringatan pada kelas penindas di Indonesia.

[i] Dalam politik, kiri, sayap kiri dan aliran kiri secara umum mengacu pada dukungan untuk perubahan sosial demi menciptakan masyarakat yang lebih setara. Mereka seringkali melibatkan perhatian pada beberapa kalangan dalam masyarakat yang dirugikan secara relatif oleh pihak-pihak lain. Selain itu mereka juga memiliki pandangan bahwa terdapat sejumlah ketidaksetaraan yang menciptakan ketidakadilan, dan hal-hal tersebut seharusnya dikurangi atau dihapus sepenuhnya. Sementara di sisi lain oleh mereka yang berada di sayap kanan, beraliran kanan, atau kelompok kanan, hal-hal tersebut dipandang sebagai sesuatu yang alami dan merupakan sebuah tradisi yang seharusnya dijaga. Istilah ini dicetuskan selama Revolusi Perancis, dengan mengacu pada pengaturan tempat duduk di Estates General, dimana mereka yang duduk di sebelah kiri umumnya mendukung perubahan-perubahan radikal yang dibawa revolusi, termasuk pendirian republik dan penerapan sekularisasi. Penggunaan istilah “Kiri” kemudian menjadi lebih mengemuka setelah restorasi monarki Perancis muncul di tahun 1815 ketika dilabelkan ke kalangan “Independents”. Label ini kemudian diberikan pada sejumlah gerakan revolusioner khususnya sosialisme, anarkisme, dan komunisme, termasuk beberapa gerakan yang lebih reformis seperti demokrasi sosial (social democracy) dan liberalisme sosial (social liberalism).

[ii] Wikipedia mengutip Frank Hsieh

[iii] Patologis menurut KBBI bermakna “1) berkaitan dengan ilmu tentang penyakit, 2) keadaan sakit atau abnormal.

[iv] Bagian ini sebagian besar bukan diterjemahkan dari wikipedia melainkan dengan mengambil dari berbagai sumber khususnya pengalaman pribadi penulis dan penerjemah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

MENA Solidarity Network

Solidarity with Workers in the Middle East

Indonesian Peoples' Alliance (IPA)

Movement for Peoples Sovereignty and Trade to Serve the Peoples!

Maruti Suzuki Workers Union

Inquilab Zindabad! Mazdoor Ekta Zindabad!

wonosobo bergerak

Pijar Harapan untuk Rakyat

WONOSOBO BERGERAK

Pijar Harapan untuk Rakyat

SEKBER

sekolah bersama

Jurnal Ari

Coretan iseng pengelana

Insatiable Booksluts

Voracious readers tell you if that book is going to suck.

Ughytov's Blog

Just another WordPress.com site

Shiraz Socialist

Because there have to be some lefties with a social life

LKIP

Lembar Kebudayaan IndoPROGRESS

Partai Rakyat Pekerja Komite Kota Makassar

SOSIALISME, Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja. SOSIALISME, Solusi Bagi Krisis Kapitalisme

boemipoetra

In A Time Of Universal Deceit, Telling The Truth Is A Revolutionary Act

Berita Buruh Indonesia

sebagai SEKOLAH PERANG, SERIKAT BURUH TIDAK terkalahkan

Working Indonesia

A Blog Covering Labor Activism in Indonesia

ARTIKEL BURUH

buruhberjuang.wordpress.com

Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung

SATU dan BERSATU oleh PERS & karena MAHASISWA

Home

One voice, unify power, unify actions for workers rights

%d blogger menyukai ini: